PENGUMUMAN

Website ini telah pindah alamat ke mediatani.co

Penyesuaian Varietas Padi dalam Sistem Tanam Jajar Legowo

Rabu, Juni 10, 2015
Sistem Tanam Padi Legowo 2:1
MediaTani - Sistem tanam legowo merupakan cara tanam padi sawah dengan pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu barisan kosong. Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan yang kosong dipindahkan sebagai tanaman sisipan di dalam barisan.

Sistem tanam legowo kemudian berkembang untuk mendapatkan hasil panen yang lebih tinggi dibanding sistem tegel melalui penambahan populasi. Selain itu juga mempermudah pada saat pengendalian hama, penyakit, gulma, dan juga pada saat pemupukan.

Cara tanam ini memiliki keunggulan yakni meningkatkan populasi tanaman per satuan luas, sehingga berpeluang meningkatkan produksi, mudah dalam pengelolaan tanaman seperti pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, kemudian memudahkan pergerakan petani di lapang karena adanya ruang kosong, dan estetika pertanaman menarik.

Cara yang efektif meningkatkan produktivitas padi dengan sistem tanam jajar legowo adalah menentukan kesesuaian varietas unggul dengan jarak tanam (populasi dan orientasi pertanaman). Seperti percobaan yang dilaksanakan di Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada MK I tahun 2014.

Sebagai utama adalah jarak tanam, yaitu T1- tegel 25 cm x 25 cm; T2- legowo 2:1 (25-50) cm x 12,5 cm; T3- legowo 4:1 kosong (25-50) cm x 12,5 cm, dan T4-legowo 4:1 penuh (25-50) cm x 12,5 cm. Varietas yang ditanam adalah Ciherang, Inpari 10, Inpari 15, dan Inpari 16.

Hasil penelitian menyimpulkan antara lain tinggi tanaman tidak berpengaruh nyata pada empat perlakuan jarak tanam, sedangkan pengaruh varietas nyata, dimana Inpari 15 memiliki tanaman yang lebih tinggi dibanding ketiga varietas lainnya. Lalu, semakin rapat jarak tanam, semakin sedikit jumlah malai per rumpun, berbeda antarvarietas.

Selain itu, jumlah anakan varietas Inpari 10 dengan jarak tanam tegel 25 cm x 25 cm menurun dibandingkan dengan ketiga cara tanam jajar legowo, dan varietas terbaik untuk dikembangkan pada lokasi penelitian dan sekitarnya adalah Inpari 16 yang ditanam secara jajar legowo 4 : 1 kosong.

Untuk hasil gabah kering giling (GKG), Inpari 16 konsisten memberikan hasil yang tinggi pada keempat jarak tanam, hasil tertinggi pada jajar legowo 4 : 1 sebesar 6,57 t/ha GKG. Sedangkan varietas Inpari 10 dan Inpari 15 masing-masing menghasilkan 5,03 + 0,19 dan 5,00 + 0,22 t/ha GKG, sama atau sedikit lebih rendah dibanding Ciherang.

Hasil varietas Ciherang relatif stabil terhadap perbedaan jarak tanam dibandingkan dengan ketiga varietas lainnya.

Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa perlu memperkenalkan sifat-sifat varietas Inpari 16 ke petani, apakah diterima karena dapat meningkatkan produktivitas, dan perlu penilaian secara partisipatif apakah cara tanam jajar legowo 4 : 1 dapat diterima petani.

Sumber: Biro Umum dan Humas Kementerian Pertanian RI